Kelakar Madura buat Gus Dur Sujiwo Tejo

ISBN:

Published: 2001

Paperback

198 pages


Description

Kelakar Madura buat Gus Dur  by  Sujiwo Tejo

Kelakar Madura buat Gus Dur by Sujiwo Tejo
2001 | Paperback | PDF, EPUB, FB2, DjVu, talking book, mp3, RTF | 198 pages | ISBN: | 5.24 Mb

Saya pernah berteori tentang kelakar, joke, guyonan, atau lelucon itu tak ubahnya sebuah seni yang sangat identik dengan strategi- bisa diskemakan, dipetakan, tetapi pada praktiknya sangat peka terhadap konteks, situasi dan kondisi. Terlambat dalam tempo, atau bila salah tempat, kadar kejenakaannya akan surut semata cerita biasa yang nirtawa.Begitu saya pernah memperhatikan seorang kawan yang secara teoritik dapat memahami beberapa trik kejenakaan, seperti kejutan layaknya twist pada sebuah cerpen, pemutarbalikan logika, satir atau mentertawakan kepahitan, atau bahkan yang paling sederhana, badutisme dalam kelakar yang paling rendah.Dalam hal demikian buku yang saya baca dalam semalaman usai menyaksikan Cak Kartolo manggung semalam ini juga terdapat hal serupa.

Cak Tejo yang saya tahu adalah seorang dalang, pandai bertutur tapi kejenakaannya banyak surut lantaran praktik kejenakaannya redup dalam caranya bertutur. Dalam hal ini dikarenakan oleh informasi yang membebani caranya menguraikan kelakar.Meski di sisi tersebut bagi saya banyak mengandaskan harapan serbuan tawa saat membaca buku ini, di sisi yang sama, sebuah lelucon, yang secara teoritik yang saya percayai[1] sebagai keterampilan berpikir di luar kelaziman, merupakan sarana bagi mengenal yang lain dalam ranah pergaulan kita.

Saya yang orang jawa peranakan, mendapatkan banyak informasi mengenai sanak kadang saya dari pulau di seberang Surabaya itu.Buku yang saya temukan karena kebetulan saya mencarikan pesanan seorang kawan ini, banyak bercerita tentang Madura, baik itu kondisi alam, budaya dan sejarahnya. Sentuhan kelakar membuat Madura dengan segala pernak-pernik budayanya sebuah kekayaan tersendiri. Budaya dan cara pandang yang Madura yang adiluhung sekaligus dapat ditertawakan[2] dalam sentuhan kelakar menjadi sebuah kenyataan/kebenaran bersahaja[3].Saya tidak akan berbagi di sini mengenai cerita Cak Tejo tentang karakter-karakter Madura yang digunakan sebagai alat bertutur.

Selain saya juga tidak yakin mampu mempraktikan kelakar lewat media tulisan sesuai dengan teori-teori yang saya yakini. Itu semata karena saya yakin, kembali yakin, bahwa hal itu malah akan menjadikan cerita yang bila saya bagi di sini akan membuat anda hilang penasaran akan dialog budaya yang tersampaikan lewat buku ini.Percayalah, dengan keyakinan saya yang keras kepala ini, membaca buku ini, baik melalui pinjaman ataupun membelinya jika anda mampu[4], akan membuat anda mengenali Madura dengan lebih baik, karena didalamnya saya juga membaca Madura dari tuturan Cak Tejo dari berbagai sumber.

Madura yang disajikan Cak Tejo berasal tutur tinular, faktual sejarah dengan centang perenang tokoh di dalamnya, tetapi sekaligus kemudian arif berkata dengan sahaja, itu saya, itu Madura, itu lah kami, itu lah kita hahahaha Demikian saya bayangkan Cak Tejo berujar dengan tak lupa menempatkan tawa yang medheni sekaligus ngangeni dalam tuturannya yang kurang lucu dibandingkan Gus Dur yang diaturi seabrek cerita ini, tapi sama sarat informasinya seperti celotehan Gus Dur yang penuh pengetahuan.Cerita dari seorang dalang yang mengaku sejak tahun 1980-an tinggal di Bandung hingga bisa jadi modal penjarakan dengan dirinya (Maduranya), menghasilkan ramuan bahwa yang faktual sejarah, yang tutur tinular (yang bisa jadi dibebani pesan moral adiluhungisme), ataupun after the fact sebagai hasil rajutan keduanya yang terbangun dari penjarakan itu muaranya adalah warna-warni Madura yang merah, kuning, dan hijau (biru dalam cara pandang setempat).[5] Penuturan Cak Tejo membuat warna-warna itu hadir sebagai sesuatu yang wajar dalam keseharian kita, karena selain kelakarnya juga menjadi bagian kita, warna yang menghiasi pandangan mata itu yang perlu disadari oleh lebih banyak orang.

Keragaman warna dan kelakar Madura yang dirajut dari perca-perca keseharian itu adalah kita karena tertawa itu akan semakin absah dan berafaedah bila kita adalah bagian dari yang ditertawai, seperti layaknya kita mentertawai diri sendiri. Bukan liyan yang diobyekkan untuk ditertawakan, yang saya curigai dapat terselip keangkuhan karena melihat kerendahan/kelemahan liyan itu.Seperti pesan yang saya dapat dalam pertunjukan Cak Kartolo semalam , menjadi Indonesia lewat kesenian, buat saya, buku ini mengajak untuk menjadi Indonesia lewat kelakar.

Kelakar sebagai bagian dari budaya sudah sepantasnya dapat terbangun darinya intercultural joke yang bukan sekadar persoalan salah paham dalam dialog dua budaya, tetapi kelakar yang tersintesa dari dua budaya. Ah saya berandai-andai. cukuplah itu sebuah hening yang saya peroleh dari buku ini. Mari tersenyum, tertawa atau apapun sak karep mu, asal tetap menjadi Indonesia!

Iki dudu mekso, cuma anjuran keras kepala hahaha!Note:[1] Baca: imani. Jadi sangat personal dan tidak boleh didebat karena ini adalah ranah pribadi yang kebetulan saya bagi kepada anda sekalian.[2] Bukan bahan tertawaan. wedi diclurit aku rek :p[3] Terimakasih kepada siapapun telah mengajarkan saya untuk pandai mentertawai diri sendiri.

Tertawakanlah diri anda sendiri, sebelum ditertawai dan menertawai orang lain J[4] Saya tidak tahu apa hubungannya ungkapan “jika anda mampu” ini dengan pengantar Cak Tejo diawal buku dan pencantuman gelar haji di sampul buku ini. Terka sendiri saja yah![5] Simak cerita yang pertentangan antara sumber tutur tinular tentang sikap Ratu Ibu terhadap suaminya Cakraningrat I dan fakta sejarah tentang sikap Cakraningrat I yang menjadi orang dekat Sultan Agung. Termasuk kekaguman yang bersumber dari tutur tinular terhadap Trunajaya yang merupakan cucu Cakraningrat I yang bersama Kraeng Galesong melawan kemapanan Mataram dengan fakta sejarah dari dokumen (yang tidak dicantumkan).



Enter the sum





Related Archive Books



Related Books


Comments

Comments for "Kelakar Madura buat Gus Dur":


hallsciences.com

©2010-2015 | DMCA | Contact us